Bulog Serap Beras 20.950 Ton

Print

Bulog berhasil menyerap beras hasil panen musim tanam pertama (MT-I) tahun 2013 sebanyak 20.950 ton. Penyerapan yang cukup tinggi tersebut dikarenakan kualitas panen padi MT-I di Kabupaten Grobogan cukup baik, yaitu rata-rata 7 ton per hektare.

”Jika melihat kondisi tanaman padi di beberapa kecamatan yang ada, dari prognosa 30.000 ton tahun pengadaan 2013, kami optimistis bisa tertutup pada panen MT-II nanti,” kata Kepala Gudang Bulog 104 Depok Purwodadi, Teguh Widhiyanto SH didampingi Koordinator Ujastasma (Uji Analisa Kualitas Beras Masuk) Aris B, kemarin.

Ditambahkan teguh, penyerapan beras dari panen MT-I tersebut tergolong cukup tinggi dibanding daerah lain di Jateng. Bahkan, dibanding tahun pengadaan tahun sebelumnya (2012) dalam periode sama (MT-I), juga lebih tinggi. Pada MT-1 Tahun 2012, Bulog Grobogan hanya mampu menyerap beras petani sekitar 13.000 ton.

”Beberapa petani mengaku, hasil panen MT-I cukup baik. Selain serangan hama seperti tikus relatif kecil, juga curah hujan relatif rendah, sehingga kadar air gabah yang dihasilkan tidak terlalu tinggi. Kondisi ini tentu saja membuat harga jual gabah di tingkat petani bisa stabil,” katanya.

Harga Stabil

Disampaikan bahwa harga pembelian kepada petani melalui mitra atau rekanan Bulog mengacu berdasarkan Inpres Nomor 3 Tahun 2012. Untuk beras sebesar Rp 6.600 per kilogram, dengan ketentuan tingkat kadar air (KA) maksimal 14 %, derajat sosoh (DS) maksimal 95 %, butir patah (PT) maksimal 20 % dan butir menir maksimal 2 %. Adapun harga gabah kering panen (GKP) dibeli Rp 3.300 per kilogram dan gabah kering giling (GKG) sebesar Rp 4.200 per kilogram.

Diakui, harga gabah di tingkat petani saat ini sudah melebihi di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Harga beras di tingkat petani mencapai Rp 6.700-6.800 per kilogram. Begitu juga harga gabah di atas Rp 3.400 per kilogram.
”Meski begitu, setiap hari kami masih menampung beras rata-rata 20-30 ton dari rekanan,” tambah Teguh.

sumber: suaramerdeka.com