iden

Info

Pengaruh Beban Berlebih Terhadap Kerusakan Jalan

Pengaruh Beban Berlebih Terhadap Kerusakan Jalan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo marah besar ketika melakukan sidak di Subah, Batang, Minggu (27/4/2014) malam. Ia memergoki praktik pungutan liar di jembatan timbang.

"Temuan mengenaskan, ya pas kalau jalan hancur, hampir semua melebihi muatan. Kalau tiap hari seperti ini, berapapun pendapatan yang diperoleh dari Perda ini tidak sebanding dengan yang kita pakai untuk memperbaiki," Ucap Pak Ganjar.

Maka tentulah kita mengambil pelajaran dari kemarahan Gubernur Jawa Tengah bahwa muatan berlebih berkorelasi langsung terhadap kerusakan jalan.

Jalan merupakan infrastruktur terpenting dalam sistem transportasi darat di Indonesia. Terjaminnya struktur perkerasan yang baik akan menjamin keberlangsungan sistem transportasi yang baik pula. Namun, struktur jalan yang tersedia di dalam sistem transportasi darat ternyata belum mampu untuk memenuhi standar sehingga sistem transportasi darat di Indonesia tidak bisa memberikan layanan yang memadai.

Kerusakan pada struktur jalan terbagi menjadi dua kriteria besar: retak dan deformasi permanen. Kerusakan retak adalah kerusakan struktur jalan yang terjadi akibat pelepasan lapisan permukaan dari lapisan bawahnya. Kerusakan ini terjadi akibat beban tarik yang terjadi di lapisan permukaan melebihi kapasitas tarik bahan perkerasan. Sementara kerusakan deformasi permanen adalah kerusakan yang terjadi akibat penurunan permukaan tanah.

Kerusakan ini terjadi karena beban yang diterima oleh jalan tidak mampu dipikul oleh lapisan tanah dasar. Kerusakan-kerusakan ini terjadi akibat beberapa faktor, antara lain perilaku pengguna jalan, pengaruh lingkungan, dan pelaksanaan konstruksi struktur perkerasan jalan. Seluruh faktor tersebut harus direkayasa untuk menjaga kondisi jalan yang baik.

Perilaku Pengguna Jalan

Perencanaan struktur jalan dilakukan dengan menggunakan beban kendaraan yang melewati struktur tersebut. Beban ini disebut Equivalent Standard Axle Load (ESAL) atau beban Sumbu Standar. Beban ini adalah beban per sumbu roda yang diberikan oleh mobil penumpang kepada struktur jalan yang didefinisikan sebesar 80 kN atau 18000 lbs. Untuk kendaraan jenis lain yang lebih berat, daya rusak yang diberikan kendaraan tersebut berlaku metode pangkat empat. Artinya penambahan beban per sumbu roda dari beban standar mengakibatkan kerusakan sebesar pangkat empat rasio antara beban nyata yang bekerja dan beban standar. Peningkatan beban akan merusak jalan empat kali lipat dari pembebanan normal. Apabila jumlah berat total truk dan muatan dua kali lipat dari berat yang diijinkan maka kerusakan jalan yang ditimbulkan tidak dua kali lipat melainkan 16 kali lipat.

Terkait kendaraan dengan muatan berlebih (overloading), meskipun saat ini masih ada toleransi muatan berlebih hingga 50 persen, namun toleransi muatan berlebih harus terus dapat dikurangi. Hal ini perlu dilakukan karena tingkat kerusakan jalan akibat muatan berlebih sangat signifikan. Hal ini membuat jalan cepat rusak karena umur jalan semakin pendek dari umur rencana.

Jaringan jalan yang ada di Kabupaten Grobogan terdiri dari jalan Kewenganan Kabupaten dengan fungsi jalan adalah jalan lokal primer dan kelas jalannya rata-rata adalah IIIC yang tersebar 229 ruas jalan  serta jalan Kewenangan Propinsi dengan fungsi jalan adalah kolektor primer dan rata – rata kelas jalannya adalah III B yaitu:

  1. Ruas Jalan Semarang-Godong Wilayah Kabupaten Grobogan;
  2. Ruas Jalan Demak-Godong Wilayah Kabupaten Grobogan;
  3. Ruas Jalan Godong-Purwodadi;
  4. Ruas Jalan Purwodadi-Wirosari;
  5. Ruas Jalan Wirosari-Sulursari-Singget (Batas Kabupaten Blora);
  6. Ruas Jalan Wirosari-Kunduran;
  7. Ruas Jalan Purwodadi-Batas Kabupaten (Klambu);
  8. Ruas Jalan Purwodadi-Geyer / Batas Kabupaten Sragen;
  9. Ruas Jalan Sukolilo-Grobogan;
  10. Ruas Jalan Kuwu-Galeh (Batas Kabupaten Sragen);
  11. Ruas Jalan Tegowanu-Tanggung-Kapung;
  12. Ruas Jalan Gubug-Kapung-Kedungjati / Batas Kabupaten Semarang;
  13. Ruas Jalan Diponegoro (Purwodadi);
  14. Ruas Jalan A. Yani (Purwodadi);
  15. Ruas Jalan R. Suprapto (Purwodadi);
  16. Ruas Jalan S. Parman (Purwodadi);
  17. Ruas Jalan MT. Haryono (Purwodadi); dan
  18. Ruas Jalan Jenderal Sudirman (Purwodadi). 

 

Tabel Kelas dan Fungsi Jalan

Kendaraan berat khususnya truk menjadi pemicu utama kerusakan jalan. Di Kabupaten Grobogan sendiri dari pengamatan penulis, selain dikarenakan oleh kondisi tanah dasar yang labil (CBR < 3 )  kerusakan jalan didominasi oleh truk dengan muatan berlebih, seperti pasir, batu gamping maupun barang hasil produksi pabrik. Kerusakan jalan di Wilayah Kabupaten Grobogan terutama Jalan Propinsi semakin parah apabila di jalur Pantura mengalami banjir, sehingga kendaran berat mengambil jalur alternative yang melewati Kabupaten Grobogan.

Pemberian beban di lapangan kepada struktur jalan seringkali tidak sesuai dengan beban yang direncanakan. Banyak kendaraan, terutama truk, mengangkut beban yang melebihi beban maksimalnya. Perilaku pengguna jalan ini memperpendek usia layan jalan dan bahkan mampu membuat deformasi permanen pada struktur jalan. Oleh karena itu, pengaturan beban yang dapat diangkut oleh kendaraan harus dilakukan dengan baik dan benar dengan menggunakan jembatan timbang sehingga tidak ada kendaraan dengan beban yang berlebih yang akan memperpendek usia layan jalan. Jika beban yang akan diangkut sangat berat, dibutuhkan kendaraan dengan sumbu roda yang lebih banyak sehingga penyebaran beban per sumbu roda akan lebih merata dan mengecil, mendekati beban sumbu standar.

Penulis :

Penulis adalah Kasubbid Pengembangan Infrastruktur Wilayah Bappeda Kabupaten Grobogan, beberapa informasi dalam artikel ini adalah opini penulis. Jika ada kesalahan dalam artikel ini, kesalahan itu adalah ketidaksengajaan penulis. Mohon kritik, saran, masukan dan koreksi atas kesalahan yang ada.

 

{fcomment}